Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan

24 Pulau Tenggelam Akibat Pemanasan Global

Written By Kelulut Klanceng on Rabu, 20 Juni 2012 | 13.38

Akibat Pemanasan Global
Pengelolaan wilayah perbatasan dalam rangka menjaga keutuhan NKRI-Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjadi salah satu topik bahasan dalam sebuah seminar Kamis (31/5/2012) di Hotel Borobudur, Jakarta.

Dalam seminar yang bertajuk "Mengembangkan Pembangunan Ekonomi di Daerah Perbatasan NKRI", di luar dugaan mengemuka demikian banyaknya persoalan. Ironisnya persoalan-persoalan itu kelihatannya tidak banyak dipahami oleh para pemangku kepentingan apalagi masyarakat umum.

Sebagai contoh sebuah lembaga di bawah Kementerian Dalam Negeri bernama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), sudah lama dibentuk melalui Undang-Undang. Pimpinannya pun seorang jenderal. Tetapi lembaga ini sepertinya tidak mendapat dukungan politik dari pemerintah.

Kalau sudah begitu, jangankan bicara soal dana pendukung, konsep dan pemikiran yang dibuat para ahli di lembaga itu, tidak pernah dianggap penting apalagi digunakan. Salah satu isu yang mendapat perhatian cukup besar adalah soal perbatasan darat antara Indonesia dan Malaysia di sepanjang Kalimantan.

Menurut Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Arisandi Sanjaya, masyarakat Dayak Iban sebagai penduduk asli pulau Kalimantan, mempunyai tali persaudaran yang sangat kuat. Kalimantan, secara tradisional hanya dihuni oleh masyarakat Dayak.

Akan tetapi akibat pemisahan wilayah antara tiga negara: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam, maka masyarakat Dayak itupun akhirnya bermukim di wilayah tiga negara. Namun walaupun mereka berbeda kebangsaann, tali kekeluargaan mereka, tetap tidak bisa dipisahkan.

Mereka pun tetap menjalin hubungan persaudaraan tanpa merasa ada hambatan akibat kewarganegaraan yang tidak sama. Itu sebabnya tidak heran jika di antara masyarakat Dayak yang tinggal di perbatasan, terjadi kontak yang cukup banyak sebagai sesama saudara.

Mereka juga memiliki semacam "negara" sendiri. Sebab selain Majelis Nasional, Dayak Iban juga punya presiden sendiri yang mereka pilih bersama. Presiden Dayak saat ini dijabat oleh Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah.

Dengan latar belakang tersebut, pejabat pemda Kalbar itu secara tersirat menegaskan, kekurang pahaman para pengambil keputusan di Jakarta, tentang latar belakang budaya masyarakat di Kalimantan, berakibat munculnya aturan-aturan yang sulit diterapkan di daerah mereka.

Atau memaksa masyarakat Indonesia yang tinggal di perbatasan agar hanya melakukan transaksi bisnis dengan sesama WNI, merupakan hal yang mustahil. Sama sulitnya dengan memaksa mereka hanya menggunakan mata uang rupiah dan bukan ringgit Malaysia.

Tertinggalnya pembangunan infrastruktur di wilayah Indonesia, merupakan salah satu kendala besar. Sebab di pihak lain, pembangunan wilayah perbatasan di Malaysia, jauh lebih maju. Tidak jarang masyarakat (Dayak) Indonesia yang memerlukan perawatan kesehatan, lebih memilih ke Malaysia sebab di sana mereka punya keluarga dan fasilitasnya pun jauh lebih memadai.

Membangun perbatasan di wilayah Kalimantan Barat saja, sudah merupakan sebuah persoalan tersendiri. Selain wilayahnya yang luas, daerahnya juga masih sangat menantang.

Di Ibukota DKI Jaya misalnya, anggaran Rp1 miliar mungkin bisa memperbaiki jalan sepanjang 16 km. Tetapi di daerah yang masih kawasan 'perawan' tersebut untuk membangun jalan sepanjang 1 km, mungkin dibutuhkan biaya paling sedikit Rp16 miliar.

Di daerah perbatasan Kalimantan Barat, juga terdapat lokasi yang memiliki deposit batubara yang volumenya cukup besar. Tetapi kalau batubara itu harus diangkut terlebih dahulu melalui darat ke pelabuhan Pontianak, baru dijual ke luar negeri, biaya angkutnya akan jauh lebih mahal dibanding harga jualnya. Sebaliknya jika batubara itu dijual melalui pelabuhan di wilayah Malaysia, penjualannya lebih menguntungkan.

Seminar yang diselenggarakan majalah internal Lemhanas, Telstra dan Bank Indonesia itu, juga menyinggung soal gerakan cinta rupiah yang dilakukan di wilayah perbatasan. Sebab persoalan rupiah yang ada di perbatasan Kalimantan, kurang lebih sama dengan di daerah Miangas, Sulawesi Utara yang berbatasan dengan Filipina ataupun di Merauke, Papua yang berbatasan dengan Papua Nugini.

Pandangan yang berkembang, gerakan cinta rupiah, sebagai sebuah teori dalam rangka membangun kesadaran dalam NKRI, tetap penting. Akan tetapi diperlukan modifikasi dan kecerdasan para pelaksana di lapangan bagaimana mengimplementasikannya.

Seorang Kepala Perwakilan Bank Indonesia di Papua dan Papua Barat mengungkapkan di pulau paling Timur itu, banyak persoalan mendasar yang tidak dipahami elit Jakarta. Misalnya Bank Indonesia harus cerdas dalam mengatur peredaran rupiah di daerah terpencil sekalipun. Jangan sampai terjadi kekosongan rupiah yang dampaknya negatif bagi citra NKRI.

Persoalan lain di daerah-daerah terisolir, pemerintah membangun pasar bagi masyarakat setempat. Tujuannya baik. Namun pejabat yang menyusun konsep itu tidak paham bahwa semua pasar terisolir di pulau tersebut, dikuasai oleh Kepala Suku. Masyarakat tidak akan berani menjual barang dagangan mereka di luar "pasar" yang dikuasai oleh Kepala Suku. Akibatnya pasar yang dibangun dan dibiayai pemerintah itu pada akhirnya menjadi "idle".

Pengalaman lain di Merauke. Saking terpencilnya wilayah tersebut, pejabat di Jakarta tidak tahu bahwa masyarakat Papua Nugini yang tinggal dekat Merauke, justru datang meminta bantuan ke pemerintah di Kabupaten Merauke agar dapat membangun sekolah dan puskemas di wilayah Papua Nugini. Ini artinya rakyat di perbatasan itu, tidak memahami soal perbedaan kewarganegaraan kedua masyarakat.

Sebuah ceritera singkat disampaikan oleh seorang pejabat Kementerian Pertahanan. Bahwa saking minimnya pemahaman tentang wilayah perbatasan, banyak yang tidak tahu bahwa di daerah perbatasan terdapat pulau-pulau kecil yang tidak punya nama.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, akibat pemanasan global, menurut catatan Kemhan, terdapat 24 buah pulau milik Indonesia yang tenggelam. "Yah kehilangan 24 pulau itu kan dianggap tidak masalah, sebab pulau kita lebih dari 17.000 buah," kata pejabat tersebut berseloroh.

Sementara Jenderal (purn) Agum Gumelar, Ketua Alumni Lemhanas meminta perhatian dari pemerintah agar memperhatikan secara serius masalah perbatasan. "Empat puluh dua tahun lalu, saya bertugas di perbatasan Kalimantan. Saya dengar di seminar ini, persoalan sama masih tetap ada. Jangan sampai terjadi, 42 tahun lagi, cucu saya akan berbicara hal yang sama tentang persoalan perbatasan," ujar mantan Danjen Kopassus tersebut yang isterinya menjabat Menteri. | Inilah.com

Aneh Tapi Nyata, Gurun Pasir Ini Ada di Tengah Gunung Salju

Gurun Pasir Ini Ada di Tengah Gunung Salju
Pemandangan aneh terlihat di Pegunungan Siberia yang dingin. Di antara gunung-gunung menjulang yang berkarpet salju berwarna putih bersih, terlihat gurun pasir tandus dengan warna kuning yang khas. Unik!

Sekitar 40 km dari Gunung Kodar, kawasan Trans-Baikal, Pegunungan Siberia, Rusia, ada sebuah pemandangan tidak biasa. Gurun pasir seluas 37 km2 menjadi potret kontras di antara putihnya salju yang menutupi pegunungan. Chara Sands atau Gurun Pasir Chara adalah magnet yang cukup kuat bagi wisatawan.

Daerah ini kerap memanggil wisatawan, terutama pendaki gunung yang ingin melihat sendiri keanehan alam di sini. Bukit pasir setinggi 15-30 meter membentang sepanjang sungai es di dasar pegunungan. Gundukan pasir ini benar-benar terlihat seperti padang pasir yang ada di Mesir dan sekitarnya.

Anda bisa coba menjejakkan kaki di sini untuk merasakan sendiri bahwa padang ini benar-benar diisi pasir. Sejauh mata memandang, hanya warna coklat muda khas pasir yang akan terlihat. Sesaat Anda akan merasa sedang berada di Timur Tengah, minus gerombolan unta dan pohon-pohon kaktus.

Diduga, gurun pasir ini terbentuk sekitar 50 atau 100 tahun yang lalu, demikian ditengok dari Amusing Planet, Rabu (13/6/2012). Daratan segitiga yang ada di depan Gunung Sakukan terkikis oleh angin dan cuaca. Kikisan tersebut menghasilkan bukit-bukit kecil dan juga padang pasir ini.

Kadang, gurun ini juga tertutup salju terutama saat musim dingin menyapa. Namun, salju tidak pernah betah lama-lama di sana. Selesai musim dingin, gurun ini kembali memesona dengan menjadi anomali dan siap memuaskan rasa penasaran para wisatawan. | Faela Shafa - Detik Trafel

Pasang Purnama Hantam Ulee Rubek, Nelayan Tidak Melaut

Written By Kelulut Klanceng on Senin, 23 Januari 2012 | 04.55

Pasang Purnama Hantam Ulee Rubek, Nelayan Tidak Melaut
Sedikitnya 450 unit boat tak bisa melaut sudah tiga hari di Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Penyebabnya adalah gelombang pasang purnama melanda wilayah ini mencapai 2,5 meter yang membuat beberapa desa mengalami kerusakan. Bahkan sederet tambak rakyat rusak dan ikanya langsung kembali kabur ke lautan luas setelah disampoh (disapu) pasang. Meski tidak ada korban jiwa, namun satu unit boat nelayan ikut rusak berat dalam insiden pasang purnama ini.

Panglima Laot Kecamatan Seunuddon, Nurdin Abdul Wahab kamis (7/6/2012) mengatakan bahwa gelombang laut telah terjadi selama tiga hari, membuat nelayan takut melaut karena tak berdaya mengarungi gelombang berbahaya itu. Malah delapan desa di pesisir pantai Seunuddon, 60 Km sebelah timur kota Lhokseumawe, masyarakatnya ikut was-was, kata Nurdin.

Menurut Nurdin, desa yang terkena terjangan terjadi di desa Ulee Rubek barat, Ulee Rubek Timu, Ule Matang, Teupin Kuyuen, Matang Anoe, matang karieng dan Matang Lada dan beberapa desa lainnya. | Serambinews

Wanita Florida mengaku sebagai vampir gigit seorang pria lanjut usia

Written By Kelulut Klanceng on Kamis, 08 Desember 2011 | 02.20


Rp.100.000,-
Seorang wanita Florida yang mengaku sebagai vampir dituduh melakukan penganiayaan setelah menggigit seorang pria lanjut usia. Menurut polisi, Jumat (9/9/2011), perempuan bernama Josephine Smith (22) itu menggigit lengan dan wajah Milton Ellis (69).

Ellis mengatakan kepada polisi di St. Petersburg, Florida, ia dan Smith bertemu di jalan. Keduanya berteduh di teras sebuah restoran kosong karena saat itu sedang hujan.
Pria tua itu menyatakan, ia tertidur di kursi roda bermotornya dan ketika bangun mendapati Smith berada di atasnya.

Ellis menuturkan kepada pihak berwenang, wanita itu mengatakan "Saya vampir. Saya akan memakan kamu" dan ia kemudian mulai menggigitnya.

Menurut laporan polisi, Ellis digigit di lengan dan bibir hingga berdarah-darah sebelum menyelamatkan diri dan menghubungi polisi. Ia kemudian dirawat dengan jahitan-jahitan di lukanya di sebuah rumah sakit setempat dan diizinkan pulang.

Setelah tiba di lokasi kejadian, polisi mendapati Smith berdarah dan setengah telanjang di tempat berdekatan, namun wanita itu mengaku tidak ingat apa yang terjadi dan tidak mengklaim dirinya sebagai vampir, kata juru bicara Kepolisian St. Petersburg Mike Puetz.

Smith, yang ditangkap pada Kamis pagi, kini ditahan dengan penetapan uang jaminan sebesar 50.000 dollar AS. (Sumber : Kompas Online).

Miskin Atau Kaya Orang Denmark tak Malu Naik Sepeda

Written By Kelulut Klanceng on Rabu, 07 Desember 2011 | 02.04


$400.00
Melancong ke Denmark sudah pasti sangat menyenangkan. Pasalnya, kota-kota yang dijelajahi serba bersih, rapi dan teratur. Itulah salah satu ciri khas negara Eropa sekaligus menandai telah mapan dari sisi peradaban maupun dari sisi perekonomian.

Karena barangkali dari sisi peradaban yang sudah maju, orang Denmark tidak lagi mengagungkan kekayaan secara berlebihan. Salah satu buktinya adalah dengan cara mereka bepergian.

Bila dilihat jalanan di kota Denmark seperti di Kopenhagen, hanya akan ditemui tiga jenis kendaraaan yaitu mobil, transportasi umum berupa bus dan sepeda.
Anda bakal berdecak kagum dengan begitu banyak sepeda dan orang bersepeda di jalanan Kopenhagen. Sepeda ada dimana-mana setiap melangkah di Ibukota Denmark yang bercuaca dingin ini.

Di pinggir jalan, di depan pertokoan, di taman kota, di pagar rumah, sampai di sekitar pintu masuk Stasiun Kereta Listrik Kota, akan terlihat sepeda berjejer.

Bahkan di dalam keretaapi pun, bakal melihat orang Denmark membawa sepeda untuk bepergian. Ya inilah surga bagi para pesepeda.

Apabila ditanyakan orang disana kenapa begitu banyak orang bersepeda di Denmark? Mereka akan menjawab karena bersepeda itu praktis.

Bagi warga Kopenhagen, bersepeda berarti praktis, mudah dan membuat mereka terhindar dari kerepotan untuk parkir mobil, antrean mobil menunggu lampu traffic light, atau menunggu bus.

Meski harga mobil memang mahal, tetapi orang Denmark berpenghasilan lumayan tinggi dan hampir semua keluarga memiliki mobil. Jadi mereka bakal menampik bahwa bersepeda hanyalah kendaraan masyarakat kurang mampu. Jelasnya, bukan karena tidak mampu beli mobil!

Secara umum, orang Denmark suka bersepeda demi kesehatan, lingkungan, iklim, dan karena pemerintah kota menyediakan jalur khusus bersepeda. Di kota besar Denmark seperti di Kopenhagen dan Odense, bersepeda menjadi cara transportasi yang umum bagi orang untuk pergi ke sekolah dan tempat kerja.

Orang Denmark sangat sering bersepeda, bahkan satu dari empat perjalanan pendek kurang dari lima kilometer, dilakukan dengan bersepeda.

Kultur
Director of Traffic Management, The Technical and Environmental Administration City of Copenhagen, Niels Torslov mengatakan bersepeda sudah menjadi kultur hidup orang Denmark. Niels mengatakan setiap hari, setiap waktu, dan tidak peduli kondisi cuaca, orang Denmark bersepeda.

Meski hari hujan, orang Denmark tetap mengayuh sepeda dengan menggunakan jas hujan. Hanya jika cuaca benar-benar terjadi badai atau karena turun salju, orang Denmark tidak bersepeda.

Tetapi masih banyak juga masyarakat Denmark yang tetap bersepeda meski salju turun. Bila ditanya, berapa banyak orang Denmark memiliki sepeda? Mereka akan menjawab, semua orang mempunyai sepeda. Bahkan banyak orang Denmark yang memiliki lebih dari satu sepeda.

Niels mengatakan jumlah penduduk kota Kopenhagen sekitar 500.000 orang. Maka ada lebih dari 500.000 sepeda ada di ibukota Denmark ini. Data statistik menyebutkan sembilan dari sepuluh orang Denmark memiliki sepeda.

Diperkirakan ada setengah juta sepeda yang terjual di Denmark per tahunnya. Ada 2,1 juta mobil di Denmark, tetapi 44 persen orang Denmark tidak memiliki mobil. Sedangkan mobil digunakan oleh 80 persen pengguna jalan di Denmark.

Dari statistik Direktorat Jalan Kota Kopenhagen, 16 persen perjalanan di kota Denmark dilakukan dengan menggunakan sepeda dan 24 persen perjalanan kurang dari lima kilometer juga dilakukan dengan bersepeda.

Sedangkan 45 persen anak-anak di Denmark menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah. "Setiap orang Denmark bersepeda rata-rata 1,1 kilometer per hari. Dan berarti terdapat 1,2 juta kilometer per hari total jarak dari seluruh pesepeda di Kopenhagen," kata Niels.

Bahkan jumlah tersebut akan meningkat menjadi 36 persen orang dewasa Denmark akan mengayuh sepeda pada akhir pekan. Niels mengatakan orang Denmark bersepeda tidak hanya karena praktis, tapi sudah merupakan gaya hidup modern. Apalagi dengan semakin pedulinya orang terhadap isu perubahan iklim dan perilaku rendah emisi karbon, maka bersepeda menjadi satu pilihan gaya hidup ramah lingkungan.

Dan pada saat penyelenggaraan KTT ke-15 Perubahan Iklim dari Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim pada 7-18 Desember 2009 di Kopenhagen, warga kota bangga dengan gaya hidup bersepeda mereka. Ya, Denmark adalah negara para pesepeda.

Sumber : Analisa Online

Aceh Tamiang Laksanakan Seminar Perlindungan Lingkungan Hidup


$200.00
Dengan meningkatnya frekuensi bencana di Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini, menjadi indikasi kuat tingkat kerusakan lingkungan hidup yang sedang dihadapi masyarakat. “Menurut kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan dari total kejadian bencana itu, sekitar 79 persennya merupakan bencana yang terkait dengan cuaca dan iklim berupa banjir, longsor, puting beliung, kebakaran hutan dan lahan serta gelombang pasang”, kata Bupati Aceh Tamiang.

Kabupaten Aceh Tamiang juga tidak luput dari trend bencana ini. Tercatat serangkaian bencana banjir mulai dipandang sebagai bencana rutin oleh masyarakat, baik masyarakat yang tinggal dihilir maupun dihulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. “Banjir bandang di penghujung tahun 2006 yang lalu telah membawa korban nyawa dan juga harta benda masyarakat seakan member pesan tegas tentang kerusakan lingkungan yang sedang dialami Bumi Muda Sedia ini”, kata Drs. H. Abdul Latief, di Aula SKB Karang Baru, Jum’at (2/12).

Pada seminar yang diselenggarakan Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Aceh Tamiang dan People’s Crisis Centre (PCC) yang mengundang pemateri dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA), Lembaga Penerapan Teknologi Pedesaan (LPTP) dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh. Bertemakan Program Peningkatan Kapasitas dan Pendampingan Masyarakat dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Bupati mengingatkan dengan lahirnya Qanun Aceh Nomor 02/2011 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dianggap menandai babak baru gerakan penyelamatan lingkungan hidup.

Menurut dia, upaya yang harus dilakukan untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan, yaitu dengan cara sistematis dan terpadu baik dalam perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukumnya.

Saat dikonfirmasi perwakilan People’s Crisis Centre, Basri mengatakan “Rangkaian kegiatan seminar perlindungan dan aksi penyelamatan lingkungan hidup dibawah koordinasi BLHK Aceh Tamiang. Target kegiatan seminar dan aksi penyelamatan, agar masyarakat mengetahui UU Nomor 32/2009 tentang lingkungan hidup”, ujarnya.

Ia menyebutkan, kegiatan ini merupakan lanjutan kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang yang bekerjasama dengan Early Warning Sistem (EWS), sehingga direspons oleh KLH.

“Program ini merupakan program nasional khusus untuk Propinsi Aceh. KLH manargetkan bentuk sosialisasi UU Nomor 32/2009 tentang Lingkungan Hidup di tiga daerah yakni, Kabupaten Aceh Tamiang, Kotamadya Lhokseumawe dan Kabupaten Bireun. Kegiatan kampanye ini berlangsung selama 2 hari, hari ini (Jum’at, 2/12) seminar, esok (Sabtu, 3/12) aksi nyata di Kampung Matang Ara Jawa, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang”, tukas Basri.

Pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta dari BLHK Aceh Tamiang Kabid Amdal Abdul Manan merasa dari paparan Ketua JKMA Abdul Manaf, tidak menyentuh tentang keterkaitan pengelolaan lingkungan hidup dengan adat Aceh. “Apakah yang memaparkan dari JKMA yang benar pemangku adat atau hanya sekedar pemateri?”, tanya Kabid Amdal BLHK itu.

Abdul Manaf yang notabene ketua JKMA menjawab, “Sebelumnya saya sudah katakan, bahwa saya bukan ahli adat tetapi hanya pemateri didalam kegiatan seminar kampanye perlindungan lingkungan hidup ini”, jawab ketua JKMA itu.

Pada akhir sesi paparan, aktivis lingkungan dari Walhi Aceh M. Nizar Abdurrani secara singkat dan gamblang memaparkan, “Perubahan iklim bisa dilihat dengan meningkatnya suhu, ini bisa dibuktikan dari deforestasi hutan tropis. Emisi dari pembakaran industry, efek rumah kaca kandungan karbon berpengaruh dengan temperatur”, papar aktivis Walhi tersebut. (Rico. F).